Perbedaan Flu

Waspadai Perbedaan Flu Biasa dan Influenza Superflu agar Tidak Salah Menangani Gejala Penyakit

Waspadai Perbedaan Flu Biasa dan Influenza Superflu agar Tidak Salah Menangani Gejala Penyakit
Waspadai Perbedaan Flu Biasa dan Influenza Superflu agar Tidak Salah Menangani Gejala Penyakit

JAKARTA - Meningkatnya pembahasan mengenai superflu membuat masyarakat perlu memahami perbedaan antara flu biasa dan influenza. Kesalahan memahami gejala dapat membuat seseorang menyepelekan kondisi yang sebenarnya berisiko.

Flu biasa dan influenza sering dianggap sama karena sama-sama menyerang saluran pernapasan. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda dengan tingkat keparahan yang tidak sama.

Istilah superflu memang bukan terminologi medis resmi. Namun, sebutan ini merujuk pada influenza A(H3N2) subclade K yang memiliki tingkat penularan tinggi.

Kondisi tersebut dinilai memiliki potensi gejala yang lebih berat dibandingkan flu biasa atau selesma. Oleh karena itu, pemahaman dasar mengenai perbedaannya menjadi sangat penting.

Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Nastiti Kaswandani, menjelaskan bahwa flu biasa dan influenza adalah dua penyakit yang berbeda. Flu biasa dikenal secara medis sebagai common cold atau selesma.

Flu biasa umumnya disebabkan oleh berbagai jenis virus selain influenza. Kondisi ini cenderung menimbulkan gejala ringan dan jarang menimbulkan komplikasi.

Penderita flu biasa biasanya mengalami pilek, batuk ringan, atau hidung tersumbat. Pada umumnya, kondisi ini tidak disertai demam tinggi.

Meskipun merasa kurang nyaman, penderita flu biasa masih dapat beraktivitas. Keluhan ini biasanya membaik dalam dua hingga tiga hari dengan istirahat yang cukup.

Gejala Influenza yang Lebih Berat dan Tidak Bisa Diabaikan

Berbeda dengan flu biasa, influenza yang belakangan disebut superflu dapat memunculkan gejala yang jauh lebih berat. Penyakit ini disebabkan oleh virus influenza, terutama influenza A dan B.

Salah satu subtipe influenza A yang banyak dibicarakan adalah H3N2. Subtipe ini dapat menyebabkan kondisi tubuh menurun drastis dalam waktu singkat.

Gejala influenza dapat berupa demam tinggi yang muncul tiba-tiba. Penderita juga sering mengalami menggigil hebat dan sakit kepala.

Nyeri otot dan rasa lemas menjadi keluhan yang cukup dominan. Selain itu, nyeri tenggorokan, batuk, dan pilek bisa terasa lebih berat dibanding flu biasa.

“Kalau seseorang sampai demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, sampai tidak bisa masuk kerja atau sekolah, itu kemungkinan besar influenza, bukan flu biasa,” jelas dr. Nastiti.

Kondisi ini membuat penderita influenza sering kali harus beristirahat total. Aktivitas harian menjadi sulit dilakukan karena tubuh terasa sangat lemah.

Menurut dr. Nastiti, superflu juga berisiko menimbulkan komplikasi serius. Risiko ini terutama mengancam kelompok tertentu yang memiliki daya tahan tubuh rendah.

Influenza dapat berkembang menjadi pneumonia atau radang paru akut. Komplikasi ini dapat memperburuk kondisi pernapasan secara signifikan.

Dalam situasi tertentu, terutama jika tidak ditangani dengan baik, influenza dapat berdampak lebih serius. Penyakit ini bahkan bisa berujung pada gagal ginjal atau gagal hati.

Risiko terburuk dari komplikasi influenza adalah ancaman terhadap nyawa. Oleh karena itu, gejala berat tidak boleh diabaikan.

Kelompok Rentan dan Fakta Tentang Superflu

Kelompok yang paling berisiko mengalami keparahan influenza adalah balita dan lansia. Sistem kekebalan tubuh pada kelompok ini cenderung lebih lemah.

Selain itu, orang dengan penyakit penyerta juga memiliki risiko lebih tinggi. Penyakit jantung, kanker, HIV, dan penyakit autoimun termasuk dalam kelompok tersebut.

Individu yang mengonsumsi obat penekan sistem imun juga perlu waspada. Pada kelompok ini, influenza dapat berlangsung lebih lama dan lebih berat.

Gejala yang dialami kelompok rentan sering kali tidak cepat membaik. Perawatan medis yang lebih intensif kerap dibutuhkan.

Terkait istilah superflu, dr. Nastiti menjelaskan bahwa kegaduhan muncul karena adanya varian influenza A(H3N2) subclade K. Varian ini diduga lebih mudah menular.

Namun, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah bahwa subclade K menyebabkan gejala yang lebih berat. Keparahan penyakitnya masih dinilai serupa dengan influenza A lainnya.

“Keparahannya masih mirip dengan influenza A pada umumnya,” jelas dr. Nastiti.

Hal ini menunjukkan bahwa istilah superflu lebih menggambarkan kecepatan penularan. Istilah tersebut tidak serta-merta berarti tingkat bahaya yang lebih tinggi.

Masyarakat diimbau tetap waspada tanpa perlu panik berlebihan. Pemahaman yang tepat justru membantu pengambilan langkah yang lebih bijak.

Pencegahan Influenza dan Situasi Terkini di Indonesia

Langkah pencegahan influenza, termasuk yang disebut superflu, pada dasarnya sama dengan pencegahan Covid-19. Penularan virus terjadi melalui percikan ludah saat batuk atau bersin.

Virus influenza juga dapat menyebar melalui permukaan benda yang terkontaminasi. Kontak tangan ke wajah menjadi jalur penularan yang sering tidak disadari.

Perilaku hidup bersih dan sehat menjadi kunci utama pencegahan. Menggunakan masker saat sakit sangat dianjurkan.

Etika batuk dan bersin perlu diterapkan secara konsisten. Mencuci tangan secara rutin juga membantu memutus rantai penularan.

Menjaga jarak dari orang yang sakit dapat mengurangi risiko tertular. Membersihkan benda yang sering disentuh juga sangat penting.

Selain itu, imunisasi influenza tetap menjadi langkah pencegahan yang efektif. Vaksin influenza terbukti menurunkan risiko penularan dan keparahan penyakit.

Imunisasi sangat dianjurkan bagi kelompok rentan. Anak dapat menerima vaksin influenza setelah berusia enam bulan.

Di Indonesia, influenza dapat ditemukan sepanjang tahun. Oleh karena itu, imunisasi dapat dilakukan kapan saja sesuai kebutuhan.

Dengan memahami perbedaan flu biasa dan influenza, masyarakat diharapkan lebih waspada. Gejala berat sebaiknya segera ditangani secara medis.

Masyarakat juga diimbau tidak panik dengan istilah superflu yang beredar luas. Informasi yang tepat membantu menjaga ketenangan dan kewaspadaan.

Untuk diketahui, kasus influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia tercatat mencapai 62 kasus hingga akhir Desember 2025. Sebaran terbanyak berada di Jawa Timur, Kalimantan Selatan, dan Jawa Barat.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memastikan situasi nasional masih terkendali. Tidak ditemukan peningkatan tingkat keparahan kasus secara signifikan.

Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Prima Yosephine, menegaskan hasil pemantauan nasional dan global. Subclade K dinilai tidak lebih berbahaya dibanding varian influenza lainnya.

“Berdasarkan penilaian WHO dan data epidemiologi yang tersedia, influenza A(H3N2) subclade K tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan,” ujarnya, Kamis, 1 Desember 2025.

Gejala yang muncul umumnya serupa dengan flu musiman. Demam, batuk, pilek, sakit kepala, dan nyeri tenggorokan masih menjadi keluhan utama.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index