JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah pagi ini menunjukkan penguatan tipis terhadap dollar Amerika Serikat.
Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.20 WIB, 06 Januari 2026 rupiah berada di level Rp 16.749 per dollar AS, naik 9 poin atau 0,05 persen dibanding penutupan sebelumnya.
Sementara itu, pada hari sebelumnya rupiah sempat melemah ke posisi Rp 16.740 per dollar AS.
Pengamat pasar uang, Lukman Leong, mengungkapkan bahwa meskipun rupiah menguat tipis, tekanan geopolitik global tetap menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai.
Khususnya, penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, memicu sentimen risk-off sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap dollar AS setelah penangkapan Presiden Venezuela memicu kekhawatiran geopolitik yang menekan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang,” jelas Lukman.
Dia memproyeksikan pergerakan rupiah berada di kisaran Rp 16.650 hingga Rp 16.800 per dollar AS selama sentimen global masih membayangi pasar.
Faktor Geopolitik dan Aliran Dana Global
Isu geopolitik menjadi sorotan utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah belakangan ini. Aliran dana global berpotensi beralih ke aset aman, terutama dollar AS, saat ketidakpastian meningkat. Fenomena ini memberi tekanan tambahan pada mata uang Garuda.
Lukman Leong menekankan pentingnya investor untuk terus memantau dinamika global. Meski penguatan tipis terlihat, rupiah tetap rentan terhadap fluktuasi akibat faktor eksternal.
“Aliran modal global yang mencari aset aman akan menekan rupiah. Namun secara fundamental, ekonomi domestik menunjukkan daya tahan yang relatif stabil,” ujarnya.
Situasi serupa juga terlihat pada pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang pagi ini dibuka melemah tipis 2,69 poin atau 0,03 persen ke level 8.856,50.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG sempat menyentuh 8.895,27 sebelum kembali bergerak di kisaran 8.850-an, dengan volume perdagangan mencapai 9,21 miliar saham dan nilai transaksi Rp 3,85 triliun.
IHSG Bergerak Stabil dengan Potensi All Time High
Meski rupiah tertekan, IHSG tetap menunjukkan tren positif sejak penutupan perdagangan sebelumnya. Indeks naik 1,27 persen ke level 8.859 pada penutupan Senin, menunjukkan minat investor domestik masih tinggi.
Analis teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG berpeluang mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high) dalam waktu dekat.
Menurut Herditya, struktur pergerakan indeks saat ini berada di wave (v) dari wave [iii], sehingga IHSG berpotensi menguat ke rentang 8.852–8.905. Level support berada di kisaran 8.705–8.584, sementara resistance terdekat diperkirakan di area 8.870–8.960.
Investor disarankan tetap memperhatikan volume transaksi dan dinamika pergerakan indeks, terutama untuk mengantisipasi kemungkinan koreksi jangka pendek. Herditya menekankan bahwa pemantauan yang cermat menjadi kunci dalam pengambilan keputusan investasi.
Saran Investor di Tengah Fluktuasi Pasar
Dengan kondisi rupiah yang menguat tipis namun masih rawan fluktuasi, serta IHSG yang bergerak stabil dengan potensi penguatan, pengamat menyarankan strategi kehati-hatian.
Investor diingatkan untuk melakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi, mengingat pengaruh sentimen global yang dapat berubah secara cepat.
Meski pergerakan rupiah dan IHSG cenderung stabil pagi ini, faktor eksternal seperti geopolitik tetap menjadi risiko utama yang harus diperhitungkan. Investor disarankan memanfaatkan momentum penguatan IHSG sekaligus menyiapkan strategi mitigasi risiko bila terjadi koreksi mendadak.
Sebagai catatan, seluruh informasi dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing investor, dengan riset dan analisis sendiri yang mendalam.