Update Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, 2 Januari 2025 Dibuka Melemah ke Rp16.699 per Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 11:37:13 WIB
Update Nilai Tukar Rupiah Hari Ini, 2 Januari 2025 Dibuka Melemah ke Rp16.699 per Dolar AS

JAKARTA - Perdagangan awal tahun 2026 diawali dengan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). 

Pada Jumat, 2 Januari 2026, rupiah dibuka di level Rp16.699 per dolar AS, melemah 0,08% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan rupiah ini sejalan dengan tren mata uang Asia lainnya yang juga mengalami tekanan pada sesi pagi.

Mengutip data Bloomberg pukul 09.00 WIB, indeks dolar AS melemah 0,16% ke level 98,16. Sementara itu, beberapa mata uang utama Asia bergerak bervariasi. Yen Jepang menguat 0,07%, dolar Singapura naik 0,06%, dan baht Thailand menguat 0,13%. Sebaliknya, dolar Hong Kong melemah 0,08%, dolar Taiwan turun 0,36%, peso Filipina melemah 0,02%, dan ringgit Malaysia naik tipis 0,04%.

Pengaruh Risalah Federal Reserve

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pasar mulai mencermati risalah rapat kebijakan Federal Reserve (Fed) bulan Desember 2025. Menurut Ibrahim, risiko pelemahan rupiah muncul karena adanya perbedaan pendapat mendalam di antara para pembuat kebijakan Fed terkait arah suku bunga pada 2026.

“Pasar terguncang oleh risalah tersebut. Meskipun Fed menurunkan suku bunga seperempat poin persentase pada rapat terakhir, beberapa pejabat masih berhati-hati untuk pelonggaran lebih lanjut karena tekanan inflasi yang tinggi dan ketidakpastian prospek ekonomi,” ungkap Ibrahim.

Ia menambahkan, kebijakan moneter yang terlalu ketat dapat berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi global secara tajam jika dipertahankan terlalu lama. Hal ini menjadi salah satu faktor eksternal yang menekan nilai tukar rupiah di awal perdagangan tahun ini.

Faktor Domestik Masih Menekan Rupiah

Selain pengaruh global, tantangan ekonomi domestik juga ikut memengaruhi pelemahan rupiah. Ibrahim menjelaskan, pemulihan ekonomi Indonesia belum maksimal akibat tekanan harga komoditas pangan dan energi yang masih tinggi, serta daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Kondisi ini membuat fundamental ekonomi Indonesia relatif lebih rentan dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara, sehingga daya saing kita menurun,” katanya.

Selain itu, ketergantungan Indonesia pada impor, mulai dari barang modal hingga bahan pangan, menyebabkan aliran devisa negara kembali keluar, memperkuat tekanan pada rupiah. Kondisi tersebut menjadikan rupiah lebih sensitif terhadap sentimen eksternal dan risiko global, khususnya dari arah kebijakan moneter negara maju seperti AS.

Perkiraan Pergerakan Rupiah Hari Ini

Ibrahim memproyeksikan, rupiah kemungkinan akan ditutup melemah di rentang Rp16.680–Rp16.710 per dolar AS pada Jumat, 2 Januari 2026. Ia menilai volatilitas nilai tukar masih akan tinggi di awal tahun ini karena sentimen global dan perkembangan ekonomi domestik yang belum stabil.

Analis pasar memperkirakan, mata uang rupiah akan terus dipengaruhi oleh dinamika geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, serta arah kebijakan moneter Fed. Jika tekanan inflasi global tetap tinggi, pasar akan cenderung menahan apresiasi rupiah dalam jangka pendek.

Dampak bagi Ekonomi dan Investor

Pelemahan rupiah memengaruhi berbagai sektor, mulai dari impor barang modal dan bahan baku hingga perdagangan energi. Bagi investor, fluktuasi nilai tukar menuntut strategi hedging yang lebih hati-hati, khususnya bagi perusahaan yang bergantung pada impor dan pembayaran utang luar negeri.

Di sisi lain, pelemahan rupiah juga bisa memberikan peluang bagi eksportir. Produk Indonesia yang dijual ke luar negeri menjadi lebih kompetitif, sehingga potensi ekspor dapat meningkat jika permintaan global stabil.

Kondisi Mata Uang Asia Lainnya

Selain rupiah, kondisi mata uang regional juga menunjukkan pergerakan yang beragam. Yen Jepang mengalami penguatan tipis 0,07%, sementara dolar Taiwan turun cukup signifikan 0,36%. Ringgit Malaysia dan baht Thailand masing-masing menguat tipis, sedangkan peso Filipina melemah marginal 0,02%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan eksternal tidak hanya dialami rupiah, tetapi juga mata uang regional lain yang memiliki keterkaitan dengan dolar AS.

Awal tahun 2026 memperlihatkan tekanan terhadap rupiah akibat kombinasi faktor global dan domestik. Kebijakan moneter AS, khususnya arah suku bunga, menjadi salah satu pemicu utama volatilitas. Di sisi dalam negeri, ketergantungan impor, tekanan harga komoditas, dan daya beli masyarakat yang belum pulih menjadi faktor yang menahan penguatan rupiah.

Ibrahim menekankan pentingnya strategi mitigasi risiko bagi pelaku usaha dan investor, termasuk pemantauan ketat pergerakan pasar dan pengelolaan arus kas. Sementara bagi pemerintah, fokus pada stabilitas ekonomi domestik dan penguatan cadangan devisa menjadi langkah penting menjaga daya saing rupiah di kawasan Asia Tenggara.

Terkini