Surplus Positif Neraca Dagang RI

Surplus Positif Neraca Dagang RI November 2025 Perkuat Stabilitas Keuangan Nasional

Surplus Positif Neraca Dagang RI November 2025 Perkuat Stabilitas Keuangan Nasional
Surplus Positif Neraca Dagang RI November 2025 Perkuat Stabilitas Keuangan Nasional

JAKARTA - Indonesia mencatatkan neraca perdagangan surplus US$2,66 miliar pada November 2025. 

Dengan capaian ini, surplus perdagangan berlangsung 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Realisasi tersebut meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang mencapai US$2,39 miliar.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menyatakan ekspor November 2025 sebesar US$22,52 miliar turun 6,6% dibanding November 2024. Penurunan terutama berasal dari ekspor nonmigas seperti bahan bakar mineral, lemak nabati, dan besi/baja. Meski ekspor menurun, neraca perdagangan tetap mencatat surplus karena impor turun lebih tajam.

Nilai impor November 2025 tercatat US$19,86 miliar, turun 0,46% dibanding periode sama tahun sebelumnya. Surplus perdagangan barang sebesar US$2,66 miliar menunjukkan stabilitas ekonomi yang terjaga. Hal ini menegaskan kekuatan ekspor nonmigas sebagai penopang utama surplus nasional.

Kontribusi Komoditas Nonmigas

Surplus November 2025 didorong oleh komoditas nonmigas sebesar US$4,64 miliar. Komoditas penyumbang utama termasuk lemak dan minyak hewani nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Kontribusi ini menunjukkan bahwa sektor manufaktur dan agroindustri tetap menjadi pilar penting perdagangan Indonesia.

Seiring dengan hal tersebut, stabilitas harga dan permintaan global turut memengaruhi kinerja ekspor. Faktor ini memastikan Indonesia tetap mampu mempertahankan posisi surplus meski ada penurunan volume ekspor tertentu. Dengan strategi diversifikasi pasar dan komoditas, surplus perdagangan dapat berlanjut.

Kinerja positif sektor nonmigas juga berdampak pada pertumbuhan industri dalam negeri. Produsen nasional mendapat kepastian permintaan, sehingga kapasitas produksi dapat dioptimalkan. Langkah ini mendukung penciptaan lapangan kerja dan mendorong perekonomian regional.

Proyeksi Ekonom dan Konsensus Pasar

Sebelumnya, konsensus ekonom memperkirakan surplus neraca perdagangan tetap berlanjut pada November 2025. Surplus diperkirakan meningkat dibanding bulan sebelumnya, menandakan tren positif perdagangan nasional. Prediksi ini konsisten dengan data BPS yang menunjukkan surplus US$2,66 miliar.

Berdasarkan proyeksi 17 ekonom yang dihimpun Bloomberg, median surplus November 2025 diperkirakan US$3,06 miliar. Estimasi tertinggi mencapai US$3,89 miliar, sementara proyeksi terendah US$2,2 miliar. Hal ini menunjukkan adanya variasi ekspektasi pasar terhadap kinerja ekspor dan impor Indonesia.

Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk., David Sumual, memperkirakan surplus November 2025 sebesar US$2,87 miliar. Prediksi ini meningkat dibanding realisasi bulan sebelumnya yang US$2,39 miliar. Ia menekankan bahwa penurunan impor yang lebih tajam dibanding ekspor menjadi faktor utama kenaikan surplus.

Tren Ekspor dan Impor Bulanan

David merinci, ekspor diproyeksikan turun 4,37% secara tahunan dan 5,31% secara bulanan. Penurunan ini terutama disebabkan oleh fluktuasi permintaan global pada sektor nonmigas. Meski demikian, neraca perdagangan tetap positif karena impor mengalami penyesuaian signifikan.

Sementara itu, impor diperkirakan naik 2,25% YoY tetapi turun 8,1% MoM. Penurunan bulanan ini menegaskan peran penting impor yang terkendali dalam menjaga keseimbangan perdagangan. Efisiensi impor juga menjadi indikator manajemen ekonomi yang sehat bagi pemerintah dan sektor bisnis.

Dengan tren tersebut, surplus perdagangan November 2025 menegaskan ketahanan ekonomi Indonesia. Hal ini mencerminkan kemampuan negeri untuk menjaga neraca dagang meski ada dinamika pasar global. Surplus yang konsisten menjadi sinyal positif bagi investor dan pelaku usaha nasional.

Makna Surplus Bagi Ekonomi Nasional

Surplus perdagangan berkelanjutan menunjukkan stabilitas ekonomi yang terjaga. Kinerja ekspor nonmigas yang kuat menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan. Hal ini memberikan kepastian bagi pelaku industri untuk tetap berproduksi dan mengekspor produk dalam negeri.

Selain itu, surplus berdampak pada penguatan posisi Indonesia dalam perdagangan internasional. Negara dapat memanfaatkan kelebihan perdagangan untuk membangun cadangan devisa. Cadangan ini penting untuk mendukung stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi fluktuasi ekonomi global.

Dengan pencapaian 67 bulan surplus berturut-turut, Indonesia menunjukkan konsistensi dalam strategi perdagangan. Surplus ini mencerminkan efektivitas kebijakan pemerintah dan ketahanan sektor produksi nasional. Tren positif ini diharapkan dapat berlanjut hingga bulan-bulan berikutnya, memperkuat fondasi ekonomi jangka panjang.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index