JAKARTA - Bank Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada posisi uang primer (M0) adjusted pada Desember 2025 yang mencapai Rp2.367,8 triliun, tumbuh 16,8% secara tahunan.
Kenaikan ini tidak hanya mencerminkan peningkatan likuiditas di sistem perbankan, tetapi juga menjadi indikasi kuat bahwa stimulus fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia berjalan sinergis mendorong aktivitas ekonomi domestik.
Pemahaman akan komposisi uang primer dan pengaruh kebijakan likuiditas menjadi kunci untuk melihat gambaran makroekonomi nasional yang semakin stabil dan dinamis.
Apa Itu Uang Primer dan Signifikansinya
Uang primer terdiri dari uang kartal yang beredar di masyarakat serta simpanan giro bank umum di Bank Indonesia. Dalam pelaporan terbaru, uang primer adjusted yang mengisolasi dampak pemberian insentif likuiditas menunjukkan tren kenaikan signifikan.
Pertumbuhan ini menandakan meningkatnya uang beredar yang siap digunakan dalam transaksi sehari-hari, mendukung konsumsi dan investasi.
Dengan nilai yang mencapai Rp2.367,8 triliun, posisi uang primer tidak hanya mencerminkan likuiditas sistem keuangan, tetapi juga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.
Faktor-Faktor Penyebab Kenaikan Uang Primer
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, pertumbuhan uang primer ini dipengaruhi oleh dua faktor utama: pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia yang meningkat hingga 35,1% YoY dan kenaikan uang kartal yang beredar sebesar 12,9% YoY.
Kedua faktor ini secara langsung menambah kapasitas likuiditas di pasar uang dan memperkuat fungsi perbankan sebagai penyalur dana bagi sektor riil.
Kenaikan giro ini juga terkait erat dengan aliran dana dari pemerintah yang menempatkan kas negara di perbankan untuk mendukung berbagai program pembangunan dan belanja publik.
Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter
Salah satu aspek kunci dalam pertumbuhan uang primer ini adalah sinergi yang berjalan antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia. Pemerintah sebelumnya menempatkan dana hingga Rp276 triliun di sistem perbankan guna memastikan likuiditas yang memadai.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penarikan Rp75 triliun dari perbankan untuk belanja negara dilakukan dengan strategi agar tidak menyedot likuiditas pasar, melainkan mempercepat perputaran uang dalam sektor riil.
Langkah ini mencerminkan manajemen kas yang cermat dimana dana publik yang semula mengendap di bank kini kembali mengalir ke sektor ekonomi secara langsung melalui pengeluaran pemerintah pusat dan daerah.
Kebijakan ini mendapat dukungan penuh dari Bank Indonesia, yang menyakini bahwa likuiditas yang meningkat akan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dampak Positif bagi Ekonomi Nasional
Peningkatan uang primer yang mencerminkan likuiditas bertambah membawa sejumlah manfaat bagi perekonomian Indonesia.
Dengan lebih banyak uang yang tersedia dalam sistem, kegiatan konsumsi masyarakat diperkirakan meningkat, membuka peluang bagi pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya.
Selain itu, perputaran uang yang lancar juga memungkinkan sektor investasi dan produksi meningkat, mendukung penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan nasional.
Kebijakan ini juga menjaga stabilitas makroekonomi dengan memastikan bahwa peningkatan likuiditas tidak memicu inflasi berlebihan, melainkan tetap terkendali berkat koordinasi antara Bank Indonesia dan pemerintah.
Hal ini menjadikan kondisi keuangan Indonesia semakin kuat menghadapi berbagai tantangan global maupun domestik.
Tren Ke Depan dan Proyeksi Bank Indonesia
Melihat tren positif ini, Bank Indonesia optimistis bahwa ketahanan sektor eksternal dan stabilitas ekonomi makro akan terus terjaga.
Ramdan Denny menyebut bahwa posisi cadangan devisa yang kuat, aliran masuk modal asing yang positif, dan likuiditas yang memadai akan mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun-tahun mendatang.
Selain itu, Bank Indonesia berkomitmen meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam rangka memperkuat ketahanan eksternal dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Pengelolaan uang primer dan likuiditas pasar yang tepat akan menjadi instrumen utama dalam menjaga kestabilan ekonomi nasional.
Tantangan dan Strategi Menghadapi Masa Depan
Meski pertumbuhan uang primer menunjukkan tanda-tanda positif, tantangan global seperti ketidakpastian ekonomi dunia, tekanan inflasi, dan volatilitas pasar keuangan tetap menjadi perhatian.
Oleh karena itu, kebijakan fiskal dan moneter harus terus beradaptasi dengan dinamika ekonomi baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Bank Indonesia dan pemerintah perlu terus memperkuat koordinasi untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas yang cukup dengan pengendalian risiko inflasi.
Strategi yang adaptif dan berbasis data akan menjadi kunci untuk menghadapi ketidakpastian tersebut tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.