JAKARTA - Hasil imbang tanpa gol di markas Arsenal memang menjaga konsistensi Liverpool.
Namun di balik catatan sepuluh laga tak terkalahkan, tersimpan persoalan serius yang mulai terlihat jelas dari sisi statistik permainan.
Pertandingan lanjutan Liga Inggris 2025/2026 di Emirates Stadium, Jumat, 9 Januari 2025 dini hari WIB, justru menjadi cermin kelemahan The Reds. Liverpool gagal mencetak gol, bahkan tidak menghasilkan satu pun tembakan tepat sasaran.
Rekor Tak Kalah Tapi Menyisakan Tanda Tanya
Liverpool sukses menahan Arsenal yang berstatus pemuncak klasemen dengan skor 0-0. Secara hasil, poin di kandang lawan jelas patut diapresiasi.
Tambahan satu angka itu juga memperpanjang catatan Liverpool yang belum terkalahkan dalam sepuluh pertandingan terakhir di semua kompetisi. Kekalahan terakhir mereka terjadi saat dibantai PSV 1-4 di Liga Champions akhir November 2025.
Meski demikian, performa di laga ini tidak sepenuhnya menenangkan. Hasil imbang justru membuka diskusi tentang menurunnya daya serang tim asuhan Arne Slot.
Malam Langka Tanpa Shot On Target
Pertandingan melawan Arsenal menghadirkan catatan langka bagi Liverpool. Untuk pertama kalinya sejak Maret 2010, The Reds gagal mencatatkan satu pun shot on target di Premier League.
Catatan tersebut baru kembali terulang setelah 600 pertandingan liga berlalu. Sebuah angka yang menegaskan betapa tidak biasanya situasi ini bagi Liverpool.
Sebaliknya, Arsenal mampu menciptakan empat tembakan tepat sasaran dari delapan percobaan. Liverpool sendiri melepaskan tujuh tembakan, namun semuanya tidak mengarah ke gawang.
Statistik Menunjukkan Penurunan Nyata
Jika ditarik lebih jauh, masalah Liverpool tidak hanya terjadi dalam satu laga. Statistik musim ini menunjukkan penurunan performa yang konsisten di sektor penyerangan.
Liverpool kini hanya mencetak rata-rata 1,5 gol per pertandingan Premier League. Angka tersebut jauh di bawah standar mereka pada musim-musim sebelumnya.
Pada era Jurgen Klopp, khususnya musim 2023-24, Liverpool mampu mencetak sekitar 2,3 gol per laga. Penurunan ini menjadi indikasi berkurangnya ketajaman tim.
xG Rendah Cerminkan Kualitas Peluang
Penurunan performa juga tercermin dari data expected goals atau xG. Pada musim terakhir Klopp, Liverpool mencatatkan xG rata-rata 2,4 per pertandingan.
Memasuki musim pertama Arne Slot, angka tersebut turun menjadi 2,2. Musim ini, xG Liverpool kembali merosot ke angka 1,5 per laga.
Statistik tersebut menunjukkan bukan hanya jumlah peluang yang berkurang, tetapi juga kualitas peluang yang semakin rendah dibanding musim-musim sebelumnya.
Volume Tembakan Terus Menurun
Masalah Liverpool semakin terlihat dari jumlah tembakan yang dilepaskan per pertandingan. Dulu, The Reds rata-rata mencatatkan 20,8 tembakan per laga.
Angka tersebut kemudian turun menjadi 17,1, dan kini hanya 14,7 tembakan per pertandingan pada musim ini. Penurunan ini cukup signifikan.
Tren serupa terjadi pada tembakan tepat sasaran. Dari 7,3 per laga pada 2023-24, turun menjadi 6,1, dan kini hanya sekitar 4 musim ini.
Kesulitan Hadapi Pertahanan Low Block
Bukan hanya angka yang berbicara, permainan di lapangan pun memperkuat kesimpulan tersebut. Liverpool tampak kesulitan membongkar pertahanan rapat lawan.
Tim-tim yang menerapkan strategi low block sering membuat Liverpool frustrasi. Arsenal menjadi contoh terbaru meski tetap mampu diredam tanpa kebobolan.
Arne Slot sendiri mengakui masalah tersebut. Ia menilai timnya masih sangat kuat melawan gaya bermain tertentu, namun kesulitan menghadapi pendekatan berbeda.
Pengakuan Jujur dari Arne Slot
Pelatih asal Belanda itu tidak menutupi kekurangan timnya. Ia bahkan menyebut telah berulang kali menyampaikan hal yang sama.
“Saya sudah mengatakan 150 kali, melawan gaya bermain tertentu kami adalah tim yang sangat bagus, tetapi melawan gaya tertentu lainnya kami kesulitan,” kata Slot kepada Sky Sports.
Ia juga menyinggung dominasi penguasaan bola yang tidak selalu efektif. Meski terlihat mengontrol permainan, Liverpool tetap kesulitan menciptakan peluang bersih.
Penguasaan Bola Tak Selalu Efektif
Slot menegaskan bahwa penguasaan bola tinggi tidak otomatis berujung pada peluang berkualitas. Hal tersebut terlihat jelas saat menghadapi Arsenal.
“Mungkin Anda juga bisa melihatnya, meskipun orang-orang sekarang positif karena kami lama menguasai bola, bahkan melawan low block Arsenal, kami kesulitan menciptakan peluang,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa Liverpool membutuhkan solusi lebih konkret di sepertiga akhir lapangan.
Dampak pada Persaingan Gelar
Masalah ini tidak berdiri sendiri. Slot mengaitkannya langsung dengan posisi Liverpool dalam persaingan papan atas Premier League.
“Itulah salah satu alasan mengapa kami tertinggal banyak poin dari mereka,” pungkas Slot. Pernyataan tersebut menyoroti jarak kualitas yang masih harus dikejar.
Liverpool tidak hanya dituntut konsisten, tetapi juga kembali tajam jika ingin bersaing dengan tim-tim teratas.
Pekerjaan Rumah Liverpool ke Depan
Ke depan, Liverpool menghadapi tantangan besar. Dominasi permainan harus diiringi efektivitas dalam penyelesaian akhir.
Tanpa peningkatan kualitas peluang dan ketajaman, hasil imbang seperti ini bisa menjadi kebiasaan yang merugikan.
Jika ingin kembali menjadi penantang serius gelar, Liverpool era Arne Slot harus menemukan cara membongkar low block dan menghidupkan lini serang mereka kembali.