Petani

Senyum Petani Bandung Barat Menguat Usai Panen Raya Jagung Bersama Polisi

Senyum Petani Bandung Barat Menguat Usai Panen Raya Jagung Bersama Polisi
Senyum Petani Bandung Barat Menguat Usai Panen Raya Jagung Bersama Polisi

JAKARTA - Hamparan tanaman jagung yang menguning di kawasan Perkebunan Panglejar PTPN VIII, Kabupaten Bandung Barat, menjadi penanda berakhirnya masa tanam sekaligus awal kebahagiaan bagi para petani. 

Panen raya jagung yang berlangsung Kamis itu bukan sekadar agenda pertanian, tetapi juga menjadi momentum penting bagi warga yang terlibat langsung dalam program ketahanan pangan.

Di tengah aktivitas panen, wajah-wajah petani tampak sumringah melihat hasil kerja mereka selama berbulan-bulan. Bagi masyarakat setempat, panen ini membawa dampak nyata, mulai dari tambahan penghasilan hingga rasa bangga karena ikut berkontribusi dalam upaya swasembada pangan nasional.

Kegiatan panen raya tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat kepolisian dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah. Kehadiran aparat negara di tengah petani memberikan makna tersendiri, sekaligus menunjukkan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung ketahanan pangan.

Suasana kebersamaan itulah yang kemudian menguatkan optimisme para petani, bahwa sektor pertanian tetap memiliki masa depan yang menjanjikan jika dikelola dengan pendampingan dan dukungan yang berkelanjutan.

Cerita petani di balik panen jagung

Surtina (54), petani asal Kampung Cimenteng, Desa Kanangasari, Kecamatan Cikalongwetan, menjadi salah satu sosok yang merasakan langsung manfaat program ini. Ia terlibat sejak awal penanaman hingga masa panen tiba, bersama puluhan petani lainnya dari desa tersebut.

“Alhamdulillah panen. Tentunya senang dilibatkan untuk bertani jagung di sini,” tutur Surtina. Kalimat sederhana itu mencerminkan rasa syukur atas kesempatan bekerja sekaligus belajar bertani secara lebih terstruktur.

Sebagai buruh tani, Surtina mendapatkan upah harian sebesar Rp 65 ribu. Penghasilan tersebut dinilainya cukup membantu perekonomian keluarga, terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

“Ini ditanamnya sekitar tiga bulan lalu. Saya dari mulai menanam, memupuk, memelihara sampai panen di sini. Alhamdulillah cukup membantu,” ujarnya, mengenang proses panjang yang akhirnya berbuah hasil.

Lapangan kerja terbuka bagi warga desa

Program penanaman jagung ini tidak hanya melibatkan satu atau dua orang petani. Ketua RW 08 Desa Kanangasari, Entin Suhartini, menyebutkan sekitar 50 warga di wilayahnya ikut terjun langsung dalam kegiatan pertanian tersebut.

Menurutnya, program ketahanan pangan ini memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Selain memperoleh upah dari pekerjaan bertani, para peserta juga menerima bantuan beras sebagai tambahan kebutuhan pokok.

“Alhamdulillah program ketahanan pangan ini membuka lapangan kerja bagi petani di sini. Jadi selain upah, juga dikasih beras 5 kilogram,” kata Entin. Bantuan tersebut dinilai sangat membantu, terutama bagi keluarga petani dengan pendapatan terbatas.

Keterlibatan warga secara langsung juga memperkuat rasa memiliki terhadap program. Mereka tidak hanya menjadi pekerja, tetapi juga bagian dari upaya bersama untuk meningkatkan produksi pangan daerah.

Peran polisi dalam ketahanan pangan

Panen raya jagung di Bandung Barat ini menjadi bagian dari peran kepolisian dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Wakapolda Jawa Barat, Brigjen Adi Vivid Agustiadi Bachtiar, menyampaikan bahwa kegiatan pertanian tersebut dilakukan secara terkoordinasi di berbagai wilayah.

Ia menjelaskan, pada kuartal pertama tahun ini, total panen jagung di seluruh Jawa Barat mencapai sekitar 300 ton. Capaian tersebut menempatkan Polda Jawa Barat pada peringkat keempat secara nasional dalam kontribusi panen jagung.

“Polda Jabar melakukan panen dengan luasan 75,99 hektare, kurang lebih hasilnya akan mendapatkan 300 ton jagung. Alhamdulillah menempatkan Polda Jabar di peringkat keempat nasional,” ungkapnya.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara aparat dan masyarakat mampu memberikan hasil konkret, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tingkat daerah.

Kolaborasi kelompok tani di Jawa Barat

Di balik keberhasilan panen tersebut, terdapat kerja sama berbagai pihak yang terlibat dalam penanaman jagung. Hingga kini, tercatat sebanyak 241 orang tergabung dalam 24 kelompok tani yang berpartisipasi dalam program ini di Jawa Barat.

Kelompok tani tersebut menjadi wadah koordinasi, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen. Dengan adanya kelompok, proses pendampingan dan distribusi bantuan menjadi lebih terarah.

Polda Jawa Barat terus mendorong kolaborasi dan sinergi dengan berbagai pihak untuk memperluas penanaman bahan pangan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan angka swasembada pangan sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan.

Dalam kesempatan panen raya, apresiasi juga disampaikan kepada seluruh petani yang terlibat. Kontribusi mereka dinilai sangat penting dalam menjaga ketersediaan pangan nasional.

Harapan berkelanjutan dari panen raya

Panen jagung di Bandung Barat tidak hanya menjadi simbol keberhasilan satu musim tanam, tetapi juga harapan akan keberlanjutan program ketahanan pangan. Dukungan dari berbagai pemangku kepentingan diharapkan terus berlanjut agar manfaatnya semakin luas.

“Kami bersinergi dengan seluruh stakeholder untuk mewujudkan, mendukung program ketahanan pangan. Ini bukti Polri bersama stakeholder terkait mendukung program ketahanan pangan Bapak Prabowo,” tandas Wakapolda Jabar.

Bagi para petani seperti Surtina, keberlanjutan program berarti kepastian kerja dan penghasilan di masa depan. Sementara bagi daerah, hal ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat sektor pertanian sebagai penopang ekonomi.

Senyum para petani usai panen raya jagung pun menjadi gambaran nyata bahwa kolaborasi, kerja keras, dan dukungan kebijakan dapat berjalan beriringan demi kesejahteraan bersama.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index