Batu Bara

Harga Batu Bara Dunia Masih Berfluktuasi Cepat Dipengaruhi China Eropa Indonesia Global

Harga Batu Bara Dunia Masih Berfluktuasi Cepat Dipengaruhi China Eropa Indonesia Global
Harga Batu Bara Dunia Masih Berfluktuasi Cepat Dipengaruhi China Eropa Indonesia Global

JAKARTA - Pergerakan harga batu bara global masih menunjukkan pola yang tidak stabil pada awal 2026. 

Dalam beberapa hari terakhir, komoditas energi ini bergerak naik dan turun dengan cepat, mencerminkan sentimen pasar yang belum menemukan arah yang benar-benar solid. Investor dan pelaku industri masih mencermati berbagai faktor eksternal dan domestik yang saling memengaruhi.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Kamis ditutup di posisi US$ 107,55 per ton atau menguat 0,94 persen. Penguatan ini terjadi setelah harga sempat melemah dalam beberapa sesi sebelumnya, sehingga memperpanjang tren volatilitas yang terus berlanjut di pasar batu bara global.

Dalam tujuh hari perdagangan terakhir, pergerakan harga batu bara tercatat melemah sebanyak empat kali dan menguat tiga kali. Pola ini menunjukkan bahwa pasar masih sensitif terhadap sentimen jangka pendek, baik dari sisi permintaan maupun pasokan, tanpa adanya katalis kuat yang mampu menahan fluktuasi.

Sentimen pasar batu bara China mulai menguat

Dari kawasan Asia, khususnya China, sentimen positif mulai muncul di pasar batu bara kokas. Penguatan terjadi seiring kenaikan harga di bursa berjangka, meskipun sebelumnya aktivitas perdagangan dan harga sempat lesu selama beberapa pekan terakhir.

Kenaikan di pasar berjangka tersebut mendorong sebagian pembeli, terutama produsen kokas, untuk kembali menambah pembelian batu bara kokas di pasar fisik. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap potensi kenaikan harga lanjutan sekaligus menjaga ketersediaan bahan baku produksi.

Selain itu, lembaga riset Sxcoal melaporkan harga batu bara termal di beberapa pusat produksi utama China juga mengalami kenaikan. Penguatan harga ini didorong oleh kebijakan harga dari penambang besar serta perbaikan penimbunan musiman atau seasonal restocking oleh para pembeli.

Eropa catat peningkatan impor batu bara

Dari kawasan Eropa, data menunjukkan impor batu bara termal mengalami kenaikan hampir enam persen sepanjang tahun lalu. Peningkatan ini terjadi seiring melemahnya pembangkitan energi terbarukan, yang pada akhirnya mendorong permintaan batu bara, terutama pada musim semi.

Namun demikian, pengiriman batu bara ke Eropa diperkirakan akan menurun pada tahun ini. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh upaya diversifikasi energi, kebijakan transisi energi, serta perkiraan membaiknya produksi energi terbarukan di sejumlah negara Eropa.

Kondisi ini turut menambah dinamika pasar global, karena perubahan permintaan dari Eropa dapat memengaruhi keseimbangan pasokan dan harga batu bara internasional dalam jangka pendek maupun menengah.

Shanxi percepat tambang batu bara cerdas

Sementara itu, China juga melaporkan perkembangan signifikan dari Provinsi Shanxi, salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di negara tersebut. Pemerintah setempat mempercepat pembangunan tambang batu bara cerdas atau intelligent coal mines guna memastikan pasokan yang aman dan stabil.

Langkah ini juga sejalan dengan upaya China mencapai target dual-carbon, yakni pengendalian emisi karbon dan peningkatan efisiensi energi. Dengan memanfaatkan teknologi, industri batu bara diharapkan tetap produktif sekaligus lebih ramah lingkungan.

Data menunjukkan bahwa selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021–2025), produksi batu bara Shanxi mencapai sekitar 6,5 miliar ton metrik. Jumlah tersebut setara hampir 30 persen dari total produksi nasional China dan memasok batu bara termal dengan harga terjangkau ke 24 wilayah setingkat provinsi.

“Dalam lima tahun terakhir, Shanxi memanfaatkan sumber daya batu bara dan keunggulan industrinya untuk meningkatkan kualitas sistem pasokan batu bara secara menyeluruh, serta mempercepat pengembangan industri batu bara menuju jalur bernilai tinggi, cerdas, dan hijau,” kata Zhang Xiang, Direktur Shanxi Provincial Energy Administration, dikutip dari Chinadaily.

Hingga November 2025, Shanxi telah membangun 369 tambang batu bara cerdas atau lebih dari sepertiga total nasional. Provinsi ini menargetkan seluruh tambang yang beroperasi normal telah menggunakan sistem kecerdasan pada 2027.

Produksi dan ekspor batu bara Indonesia 2025

Dari Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat produksi batu bara sepanjang 2025 mencapai 790 juta ton. Angka ini menjadi salah satu penopang utama pasokan batu bara global, mengingat Indonesia merupakan eksportir terbesar batu bara termal di dunia.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa dari total produksi tersebut, sekitar 65,1 persen atau 514 juta ton diekspor ke luar negeri. Sementara itu, sekitar 32 persen atau 254 juta ton diserap pasar domestik.

Penjualan domestik ini mencakup kebutuhan pembangkit listrik serta sektor non-kelistrikan, seperti industri semen dan fasilitas pengolahan serta pemurnian mineral atau smelter. Adapun stok batu bara tercatat sekitar 22 juta ton atau 2,8 persen dari total produksi.

Rencana penyesuaian produksi batu bara 2026

Dengan porsi ekspor yang sangat besar, pemerintah menilai perlu adanya penyesuaian produksi batu bara ke depan. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan global sekaligus mendukung perbaikan harga batu bara.

“Batu bara yang diperdagangkan di global 1,3 miliar ton. Dari jumlah itu, Indonesia menyuplai 514 juta ton atau 43 persen, akibatnya apa supply and demand tidak terjaga, artinya harga batu bara turun,” jelas Bahlil dalam konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM 2025 di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan bahwa pemerintah akan merevisi kuota RKAB dan menurunkan produksi agar harga batu bara tetap terjaga serta cadangan sumber daya dapat dimanfaatkan untuk generasi mendatang.

Ke depan, pemerintah menargetkan produksi batu bara Indonesia pada 2026 dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton. Angka ini turun sekitar 24 persen dibandingkan realisasi produksi 2025 yang mencapai 790 juta ton, sekaligus menandai perubahan strategi pengelolaan batu bara nasional

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index